"Kita belum mengetahuinya. Bisa jadi mereka sudah ada di tempat itu. Karena itu, kita harus bergegas," jawab Komandan Jiang, suaranya tegas dan penuh ketegangan.

Setelah perjalanan panjang melewati rimbunnya hutan Fengling, akhirnya mereka tiba di lokasi yang dicari.

Dari kejauhan, mereka bisa melihat di tengah area berbatu yang dikelilingi pohon-pohon besar, tumbuh tanaman spiritual dengan daun berwarna biru kehijauan. Cahaya lembut yang terpancar dari tanaman itu memberikan aura yang menenangkan. Ditanaman tersebut terlihat sebuah kuncup bunga yang belum mekar.

"Itu dia!" seru Li Wei penuh semangat, matanya berbinar."Akhirnya aku bisa menyelamatkan kakakku Li Mei,"

Komandan Jiang mengamati tanaman itu dengan ekspresi serius. "Ini adalah Moon Spirit Herb. Tanaman ini hanya berbunga sepuluh tahun sekali dan hanya ada satu, kita tidak boleh kehilangan kesempatan ini."

"Ayo cepat, kita harus segera memetiknya!" kata Li Wei, bersemangat.

"Tunggu!" Komandan Jiang menahan Li Wei. "Ada yang aneh, tempat ini terlalu sunyi."

"Justru bagus, artinya tidak ada yang mencoba merebut tanaman ini," kata Li Wei bersikeras.

"Li Wei, bukankah katamu kita memerlukan bunganya? Aku melihat tanaman itu masih kuncup, belum mekar," kata Jelita. Dia mengetahui tentang tanaman-tanaman herbal berkat pelajaran dari tetua Drona. Jika bagian yang dibutuhkan adalah bunga, berarti mereka memang harus menunggu hingga tanaman itu berbunga, jika tidak, khasiatnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.

"Yun Qing benar, kita harus bersabar dan menunggu tanaman ini hingga berbunga. Seharusnya tidak akan lama lagi," kata Komandan Jiang.

Komandan Jiang memejamkan matanya, mencoba memeriksa keadaan di sekitarnya. Dia tidak menemukan sesuatu yang aneh, tetapi instingnya mengatakan ada bahaya di area itu. Dia berusaha memeriksa sekitarnya, memastikan tidak ada jejak yang terlewatkan.

"Kita harus berhati-hati. Aku mencium aroma darah," Komandan Jiang tiba-tiba memberi peringatan. Li Wei dan Jelita segera mencoba merasakan aroma yang tersebar di udara dan merasakan hal yang sama.

Dengan pengalamannya selama di pulau yang dipenuhi dengan kematian, Jelita juga dapat membedakan aroma yang ada di udara namun dia hanya diam, dan melihat apa yang ingin dilakukan oleh kepala sukunya.

Mendengar adanya bahaya disekitar tempat itu, dengan cepat, kelima prajurit bersiaga dan mengawasi keadaan sekitar, sementara Komandan Jiang dan Li Wei menghunus pedangnya.

"Apakah kamu punya senjata, Yun Qing?" bisik Li Wei.

Yun Qing menggelengkan kepalanya. Selama perjalanan, dia merasa tidak memerlukan senjata karena ada Xiao Ling yang akan selalu menjaganya.

"Gunakan senjata ini Yun Qing !" Lynx mengeluarkan sebuah pedang dari cincin penyimpanan. Pedang ini memiliki bentuk yang terlihat istimewa dengan ukiran menyerupai formasi di gagang pedangnya.

"Cincin penyimpanan?" Komandan Jiang dan Li Wei merasa heran melihat Lynx menggunakan cincin penyimpanan. Mereka sudah terbiasa melihat cincin penyimpanan, bahkan mereka juga memilikinya, tetapi mereka tidak menduga bahwa Lynx, yang terlihat seperti pemuda miskin, juga memilikinya. Selain itu cincin yang digunakannya memiliki kesan kuno, berbeda dengan bentuk cincin yang mereka punya.

Jelita dengan senang hati menerima pedangnya. "Terima kasih, Xiao Ling," katanya sambil tersenyum malu.

Lynx juga mengeluarkan sebuah pedang agar tidak mencurigakan. Sejak mendekati tempat ini, Lynx sudah merasakan keberadaan binatang iblis di sekitarnya, serta melihat jejak pertarungan yang telah terjadi. "Kemungkinan para kultivator yang datang ke tempat ini sudah menjadi mangsanya," batin Lynx.

Dengan penglihatan tembus pandangnya, Lynx dapat melihat binatang iblis yang menyerupai ular seukuran batang pohon sedang bersembunyi di balik bebatuan sekitar tanaman spiritual. Binatang iblis ini sudah menyadari keberadaan mereka dan menunggu kesempatan.

Lynx yang menyadari situasi tersebut hanya diam. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Komandan Jiang dan tindakan apa yang akan diambil oleh kelompok mereka.

Tiba-tiba, tanah di sekitar mereka bergetar!

Lynx yang sudah mengetahui keberadaan binatang iblis tersebut segera mundur dan menarik Jelita ke tempat yang lebih aman.

"Jangan maju, ada binatang iblis yang akan muncul. Kamu tunggu saja disini dan jauhi bahaya. Aku akan memastikan keselamatan mereka." kata Lynx dengan nada menenangkan.

Jelita yang memahami kekuatan Lynx, menganggukkan kepala. Dia sangat mempercayainya.

"Waspada semuanya," teriak komandan Jiang saat melihat sesuatu yang besar bergerak di dekat tanaman spiritual.

Namun, sudah terlambat.

BOOM!

Dari dalam tanah, muncul seekor ular raksasa dengan sisik hitam keunguan. Matanya yang merah bersinar tajam menatap mereka. Tubuhnya yang panjang dan kokoh sebesar batang pohon melingkar di sekitar tanaman spiritual, menunjukkan bahwa ia adalah penjaga tempat ini.

Li Wei mundur selangkah dengan wajah pucat. "M-Monster apa ini?!"

Komandan Jiang segera maju, menghunus pedangnya dengan ekspresi serius. "Itu… Black Serpent Demon! Tapi kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaannya sebelumnya? Jangan-jangan tingkatan binatang ini Demon Beast Fana, sehingga aku tidak bisa mendeteksinya!"

Li Wei tersentak, kakinya melemas karena takut. "Jadi… bagaimana mungkin kita bisa mengalahkannya?"

Ular itu mengangkat kepalanya tinggi, mengeluarkan desisan mengancam. Mulutnya yang dipenuhi taring runcing terbuka, memperlihatkan racun berwarna ungu yang menetes dari taringnya, melelehkan batu di bawahnya.

Komandan Jiang menggenggam pedangnya lebih erat, keringat dingin membasahi dahinya. "Jika aku bertarung melawan makhluk ini, peluang menangku sangat kecil…" gumamnya."Tetapi aku harus tetap mencobanya, aku harus menyelamatkan nona Li Wei "

"Kalian, pastikan lindungi nona Li Wei dengan nyawa kalian." Perintah komandan Jiang kepada para prajuritnya.

Lynx, yang berdiri di belakang mereka, hanya menatap santai. Ia sudah memiliki rencana, tetapi dia ingin melihat bagaimana Komandan Jiang dan Li Wei menangani situasi ini terlebih dahulu.

Sementara itu, Jelita yang sudah mendapatkan peringatan dari Lynx, segera bersiaga untuk menghindar sesuai arahan Lynx.

"Awas dia mulai bergerak." Kata komandan Jiang memperingatkan.

Black Serpent Demon melesat dengan kecepatan luar biasa, menyerang Komandan Jiang dengan taring besarnya.

"Semua mundur! Kita tidak mungkin bisa mengalahkannya!" teriak Komandan Jiang.

Para prajurit segera bergerak mundur, tetapi Li Wei tetap diam di tempat. Rasa takutnya akan ular membuatnya tidak mampu bergerak. Sejak kecil, dia sangat takut dengan ular, dan kini ular yang sangat besar berada di hadapannya.

"Nona Li Wei, cepat menghindar!" Komandan Jiang berusaha memanggil, namun tidak ada respon.

Melihat binatang iblis itu akan menyerang dan serangannya mengarah ke Li Wei, Komandan Jiang segera maju untuk menolong. Dia menbuat perisai dengan energi Qi yang melindungi dirinya dan Li Wei dari serangan ular iblis itu. Dia berusaha melindungi Li Wei dari ancaman yang mengerikan.

"Nona Li Wei, sadarlah. Kita harus cepat menghindar. Perisai ini tidak akan dapat lama menahannya." Teriak komandan Jiang dengan nada khawatir.

BOOM!

Perisai energi yang diciptakan Komandan Jiang langsung retak hanya dalam satu hantaman. Kekuatan mereka berada di level yang berbeda. Li Wei dan Komandan Jiang terhuyung ke belakang. Wajah komandan Jiang terlihat memucat dan memuntahkan darah.

Meski sudah meminum pil pemulihan setelah melawan Gao Qian, tubuh Komandan Jiang masih perlu waktu untuk pulih. Serangan Black Serpent Demon membuatnya kembali terluka dan membuat kondisi tubuhnya semakin parah.

"Nona Li Wei, menghindar!" teriaknya sambil menahan rasa sakit, berusaha memperingatkan Li Wei sebelum ular iblis itu melancarkan serangan berikutnya. Dia tahu bahwa waktu sangat penting dan harus segera mengambil tindakan untuk melindungi mereka semua.

Black Serpent Demon kembali mengamuk dan berusaha menerkam Li Wei yang berada di tempat paling depan. Terdengar teriakan dari para prajurit, Komandan Jiang, dan Jelita.

Li Wei menutup matanya, pasrah melihat kepala ular besar yang akan segera menggigitnya. Namun, tiba-tiba saja serangan ular tersebut meleset, gigitannya mengenai batu yang jauh di depan Li Wei.

"Apa yang terjadi?" tanya para prajurit dengan kebingungan.

"Apakah kamu melihatnya? Gerakan ular itu sangat aneh, tahu-tahu dia sudah mundur ke belakang dan menyerang batu hingga hancur," kata prajurit yang lainnya.

Komandan Jiang memandang tidak berkedip, harapannya mulai timbul kembali setelah melihat Li Wei selamat.

